Wednesday, October 20, 2010
Apakah ada Air di Bulan???
Penelitian tentang bulan terus berkembang. Para ilmuwan luar angkasa berusaha menemukan adanya kehidupan disana. Nah sejauh apakah perkembangannya. Simak ulasannya di bawah ini ya! Mengembalikan Manusia ke Bulan Sudah lewat 40 tahun sejak Neil Amstrong dan Edwin Aldrin mendarat di bulan. Maka dibuatlah sebuah rencana untuk mengirim kembali manusia ke bulan. Rencana tersebut ditargetkan pada tahun 2020. Langkah pertama yang dilakukan adalah mempersiapkan peta detail untuk menentukan lokasi pendaratan. NASA juga merencanakan untuk membuat pangkalan di bulan. Mencari Air di Bulan Berdasarkan penelitian, para ilmuwan memperkirakan adanya air berbentuk es pada kawah dekat salah satu kutub bulan. Kawah tersebut berada pada wilayah yang tidak terkena terkena sinar matahari. Para ilmuwan juga menduga terjadinya hantaman roket telah menyebabkan uap air berhamburan. Kemungkinan besar uap air tersebut terkumpul di titik dingin dalam kawah. Nah, untuk mendeteksi keberadaan air beku di balik bayangan gelap kawah di kutub bulan, NASA mengembangkan satelit yang dinamai LCROSS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite). Satelit itu LCROSS bertugas merekam lalu melaporkan data air yang berada dalam kawah bulan. Harapannya, kelak es yang diperkirakan ada di bulan bisa digunakan. Bukan hanya sebagai sumber air minum, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber oksigen dan sumber energi. Bagaimana caranya? Air terdiri dari unsur oksigen dan hidrogen. Bila molekul air dipecah menjadi oksigen dan hidrogen, maka oksigen bisa digunakan untuk bernapas astronot dan hidrogen untuk bahan bakar roket. Penelitian Sebelumnya Penelitian tentang keberadaan es di bulan sudah dilakukan tahun 1900-an. NASA bekerjasama dengan Pentagon mengirimkan wahana Clementine. Hasil penemuan wahana tersebut adalah sesuatu yang diduga berkilau di dasar kawah dekat kutub selatan bulan. Tahun 1998 dilakukan kembali penelitian oleh wahana NASA Lunar Prospector. Tugasnya mendeteksi keberadaan hidrogen. Sayangnya, Lunar Prospector tidak bisa memastikan lokasinya dengan tepat. Bentuk hidrogennya juga tidak bisa dipastikan, apakah air atau es. Menabrak Kawah Bulan LCROSS adalah misi pendamping LRO (Lunar Reconnaissance Orbiter). Keduanya dipasang pada roket peluncur Atlas V. LCROSS dan LRO diluncurkan di Kennedy Space Center, Florida pada 18 Juni 2009. Dua jam setelah peluncuran, LRO memisahkan diri. LCROSS dan Centaur (bagian teratas roket Atlas V) terus terbang mendekati bulan. Kemudian masuk orbit yang memanjang untuk mencari tumbukan yang tepat. LCROSS berpisah dengan Centaur saat mendekati lokasi tumbukan. Sekarang kita tengok LRO yang melepaskan diri terlebih dahulu. LRO membawa tujuh peralatan termasuk lensa kamera yang memiliki kemampuan membidik sebuah obyek sepanjang satu meter. LRO juga membawa peralatan pemetaan panas untuk merekam bawah permukaan yang cukup dingin bagi keberadaan es, altimeter laser untuk membangkitkan peta topografis, dan teleskop kosmis untuk pengukuran radiasi permukaan bulan. Wahana LRO dibuat dengan menghabiskan dana sebesar US$580 juta atau sekitar Rp 5,8 triliun. Wow! Menabrakkan Diri Lain lagi dengan Centaur. Bagian ini melakukan semacam kamikaze, yaitu menabrakkan diri ke kawah bulan yang mengandung es. Mau tahu berapa kecepatannya? Dua kali lipat kecepatan sebutir peluru! Akibatnya timbul ledakan. Lalu puing roket, batuan bulan, es, dan uap air terlontar hingga ratusan meter dari permukaan bulan. Empat menit kemudian, LCROSS terbang mengikuti jalur yang sama dengan roket tersebut. Bahkan menembus lontaran puing hasil ledakan. Saat inilah LCROSS berperan. Satelit tersebut memotret, menganalisis, dan mengirimkan datanya ke bumi. LCROSS dilengkapi peralatan untuk mendeteksi air dalam bentuk es maupun uap air. Lalu bagaimana nasib LCROSS setelah menjalankan tugasnya? LCROSS menabrakkan diri ke permukaan bulan. Serpihan antariksa pun kembali muncul. Menurut NASA, tumbukannya tersebut bisa dilihat dari bumi lho. Tentu saja menggunakan teleskop. Bulan Semakin Jauh dari Bumi Ilmuwan menemukan bahwa bulan ternyata semakin jauh dari bumi. Bagaimana mereka mengetahuinya? Ketika Neil Amstrong melakukan perjalanan ke bulan, ia meninggalkan jejak panel reflektor. Ternyata Prof. Carrol Alley, seorang fisikawan dari University of Maryland, menggunakan reflektor tersebut untuk mengamati pergerakan orbit bulan. Ia menembakkan laser dari observatorium ke reflektor di bulan. Hasil pengamatan tahunan menunjukkan bahwa jarak bumi-bulan terus bertambah. Hasil penelitian itu diperkuat oleh sejumlah pengamatan di McDonald Observatory, Texas, AS. Hasilnya menunjukkan bahwa orbit bulan bergerak menjauh dengan laju 3,8 cm per tahun. Mengapa bisa terjadi? Menurut Takaho Miura, seorang ilmuwan dari Universitas Hirosaki Jepang, gaya pasang surut air laut yang diakibatkan bulan terhadap lautan di bumi. Gaya rotasi bumi pun berangsur-angsur berpindah ke gaya pergerakan orbit bulan. Lama-kelamaan, orbit bulan menjauh. Bahkan terjadi tiap tahun. Rotasi bumi pun melambat 0,000017 detik per tahun. Apa akibatnya bila bulan semakin menjauh dari bumi? Pada dasarnya, pergerakan bulan berperan penting terhadap keseimbangan iklim dan suhu di bumi. Jadi posisi bulan yang berubah akan mengganggu keseimbangan iklim dan suhu di bumi. Pengaruh lainnya adalah terganggunya aktivitas makhluk hidup dan aktivitas lempeng bumi. Contoh nyatanya adalah beberapa kejadian gempa besar di negara kita seperti tsunami di Aceh dan gempa di Nabire, Simeuleu, Nias, Mentawai, dan Yogyakarta.
Label:
lain
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment